Kicauan #MelawanAsap Kembali Ramaikan Social Media

Because in Medan we feel the same as you…

liandamarta.com

Tahun ini adalah tahun kedua saya ‘mencicipi’ kabut asap yang parah di Pekanbaru. Walaupun saya lahir di kota ini, tapi saya baru benar-benar tinggal di sini sejak tahun 2013. Jadi belum merasakan kabut asap yang konon merupakan kabut asap terparah di tahun 1998 silam.

Meskipun begitu, dua tahun berturut-turut merasakan kepekatan kabut asap di Pekanbaru sudah cukup membuat saya merasa terganggu. Rasanya untuk bernafas saja sulit. Apalagi saya sensitif banget sama asap. Dekat orang yang merokok dan kena asap rokoknya saja saya terganggu banget. Apalagi di kondisi kabut asap pekat yang menyelimuti kota tempat tinggal saya ini. Bisa kebayang dong gimana terganggunya saya selama tinggal di sini?

Karena itulah saya merasa greget banget sama masalah tahunan yang gak kelar-kelar ini. 18 tahun lhoooo Pekanbaru dan beberapa daerah lainnya di Riau dan Sumatera terselimuti kabut asap, dan sampai sekarang belum menemukan titik penyelesaian sama sekali. Masalahnya terus saja berulang.

View original post 648 more words

[being nice for dummies] #0004 Barang mahal yang nggak semua orang punya

(new) Mbot's HQ

Cerita oleh2 waktu ke Bandung 2 minggu yang lalu.

Gue dan Ida jalan-jalan di Ci-Walk sampe haus, dan akhirnya mampir di foodcourtnya. Baik gue maupun Ida waktu itu sama2 baru ngeh bahwa ada di Ci-Walk ada foodcourt. Abis, tempatnya nggak strategis banget: di lantai paling atas, satu lantai dengan bioskopnya, dan dari depan bioskop pun masih harus belok ke kanan terus kiri sedikit baru deh sampe ke sana. Sementara di bawah udah segitu banyaknya tempat makan yang asik-asik. Nggak heran tu foodcourt sepi banget.

Berhubung niatnya cuma mau beli minum, maka gue langsung menuju booth minuman yang kebetulan letaknya paling deket sama kasir dan pintu masuk. Gue beli cappuccino es seharga 7000 perak, sedangkan Ida mau beli air mineral (baca: air minum kemasan, yang sebenernya belum memenuhi syarat kecukupan kandungan mineral untuk disebut ‘air mineral’).

“Wah di sini nggak jual air mineral mbak”, kata mbak-mbak penjaganya. “Yang jual air mineral…

View original post 389 more words

Kalau pekerjaan seperti anak kandung sendiri

I found that this post will be useful in future, so with permission from author Agung Nugroho, I delighted to reblog this post. Enjoy!

(new) Mbot's HQ

Di kantor lagi musim performance appraisal, dan mendadak banyak berseliweran obrolan-obrolan bermuatan motivasi kerja. Yang satu ini lumayan unik buat gue, karena memandang pekerjaan dari sudut pandang yang belum pernah terlintas di pikiran gue sebelumnya 🙂

Seorang bawahan bilang, “Boss… kenapa sih gue nggak naik-naik pangkat? Gue udah kerjain semua kerjaan gue. Apa yang lu suruh gue lakuin. Memang sih, ada beberapa yang meleset, tapi kan bukan sepenuhnya salah gue. Itu kan terkait sama divisi lain. Kalo mereka yang lemot dan berimbas pada kerjaan gue, masa gue yang salah sih?”

Si boss menjawab, “Gini deh. Lupain kerjaan, dan inget anak lu di rumah. Sekarang bayangin, pada suatu hari, tetangga lu dateng dan bilang mau ngajak anak lu yang masih balita jalan-jalan ke bonbin. Dia janji mau pulangin anak lu jam 5 sore. Eh ternyata sampe jam setengah 6 belum dateng. Nggak ada kabar, nggak ada sms, nggak ada telepon. Apa…

View original post 752 more words

[being nice for dummies] #0012: kejutan istimewa dari Planet Sports

(new) Mbot's HQ

Kalo lo mau beli sepatu di toko, dan sepatu yang lo pilih nggak tersedia ukurannya, apa yang biasanya dilakukan penjaga tokonya?

Kalo dia sekedar bilang, “Maaf, ukurannya nggak ada” mungkin lo akan maklum.

Kalo dia bilang “Maaf, ukurannya nggak ada. Berminat dengan model yang ini, barangkali?” lo mungkin akan sedikit terkesan dengan upaya si penjaga toko untuk membantu.

Tapi yang gue dan Ida alami kemarin bener-bener jauh melebihi ekspektasi kami atas pelayanan toko sepatu manapun yang pernah kami kunjungi.

Ceritanya, kemarin gue dan Ida jalan-jalan ke Grand Indonesia, refreshing dikit mumpung dapur kotakkue.com lagi libur. Niat awalnya sih cuma mau cuci mata, tapi akhirnya jadi ngiler waktu liat tulisan “discount” tergantung-gantung di toko Planet Sports. Ida lantas inget pernah ngincer sepatu merk Skechers beberapa waktu yang lalu. Kamipun mampir.

Pilih punya pilih, Ida akhirnya naksir sepasang sepatu tipe casual, dan minta dibawain nomor 37 kepada Mbak Pramuniaga. Si Mbak Pramuniaga…

View original post 980 more words

Narayama: A Ballad of Life and Death

Maut dan hidup merupakan topik abadi nan kekal yang tiada tanding, dan bisa hadir dalam situasi dan suasana, pikiran dan khayalan, mimpi dan fakta, harapan dan getir, siapa saja—entah itu dokter, polisi, hansip, satpam, militan, politikus, guru, pegawai eselon tingkat atas—maupun mereka yang tidak populer namun memiliki peranannya masing-masing, kapan saja—saat duduk, diam—saat waktu kelihatan tak berharga, maupun saat waktu sangat berharga, dan di mana saja; sehingga mereka selalu melengkapi satu sama lain.

Persepsi menafsirkan beragam sudut pandang nan magis bagi tiap insan, dan hal itu absah, patut, dan terpuji bagi pemiliknya, bagi mereka yang sepaham dan sependapat dengannya, serta menjadikan persepsi tersebut sebagai bahan dasar imajinasi lalu melahirkan berbagai kisah tentang beragam hal, salah satunya: maut itu sendiri.

Persepsi tiap insan terhadap maut pastilah berbeda—sebagaimana latar belakang dan pengalaman hidup, daya cipta dan kemauan, pola pikir dan intepretasi, kebiasaan dan gaya hidup, pilihan dan keadaan, agama dan kepercayaan, suku, warna kulit dan bangsa, awal lahir maupun akhir hidup juga berbeda.

Sejauh mana maut mempersiapkan keteguhan batin, sejauh itulah maut semakin romantis mendekap penuh rayu dan erotis. Maut jenis itu hadir dalam intepretasi dan budaya lama Jepang: obasute. Sejatinya, obasute ini merupakan tradisi ilegal yang belum terklarifikasi kebenarannya, dengan meninggalkan wanita maupun pria tua di suatu gunung maupun tempat terpencil agar mereka bisa dipersunting oleh maut.

Topik maut yang dipaparkan dengan pasti inilah yang ditengahkan oleh Shichirō Fukazawa melalui novelnya (1956) The Ballad of Narayama. Secara retorik, topik ini pun diadaptasi menjadi cerita dan kisah dalam film oleh Shohei Imamura (1983) agar keabadian maut semakin memukau. Maut pun berhasil sehingga Palme d’Or dianugerahkan padanya.

Ballad_of_Narayama_1983

The Ballad of Narayama, 1983 © Toei Company (Sources)

Dengan indah maut pun berkisah dalam balada nan puitis-syahdu-melodis-rupawan-tragis ini. Maut mengisahkan bahwa ia akan mengundang para tetua yang berhasil hidup hingga umur yang ketujuh puluh, untuk mendatanginya di gunung Narayama—sebuah gunung sakral nan magis. Maut juga menyediakan angkutan bagi tetua ini, yakni anak mereka sendiri. Ya, mereka akan diantar oleh anaknya sendiri ke Narayama untuk ditinggalkan begitu saja. Tragis? Maut dan Orin tidak berpikiran demikian. Setidaknya Orin—tokoh sentral dalam balada ini—merasa bangga karena waktunya mengunjungi Narayama telah tiba. Namun ia merasa sebelum keberangkatannya tiba, ia masih harus mencarikan jodoh bagi putranya yang masih perjaka, dan cucunya sendiri menginginkan ia segera pergi ke Narayama, sehingga demi menahan malu atas tuduhan cucunya: sebab bukan lansia namanya jika giginya masih lengkap, ia pun berbesar hati lalu menanggalkan giginya yang masih lengkap. Demi menyambut kepergiannya ke Narayama yang makin dekat, seluruh warga desa merayakannya dalam festival yang penuh nyanyian dan tarian penuh sukacita. Orin pun merayakannya dengan menjamu keluarganya dengan makanan termewah yang ia miliki yang mengakibatkan ia semakin merindukan Narayama, sebab ia percaya bahwa ia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, sebab ia percaya bahwa salju tidak akan turun sebelum ia tiba di Narayama, sebab ia percaya bahwa maut akan memberikan penghargaan tertinggi kepadanya, sebab ia percaya mengunjungi Narayama merupakan tradisi yang harus ia jalani sama seperti nenek dan ibunya juga dengan bangga melakukan perjalanan menuju Narayama, sebab ia percaya bercinta dengan maut di Narayama adalah hal terakhir yang akan ia lakukan—dan itulah yang Orin lakukan.

Persepsi Orin menyajikan keberanian tak berwujud terhadap maut. Bagi Orin, maut adalah belahan jiwanya, yang ia dambakan, lalu ia nikahi. Namun, seromantis itukah maut bagi kita?

Your Postcard Had Arrived

Setelah beberapa minggu hectic bolak-balik ngampus dan kejar-kejaran dengan dosen, akhirnya sore ini bisa juga meluangkan waktu membuat satu post. Awalnya post ini ini dimaksudkan ditulis saat saya menerima postcard dari Mbak Emmy yang telah bersedia mengirimkan postcard ini jauh-jauh dari Austalia dikarenakan pada review 2014-nya blog Mbak Emmy, saya berhasil menjadi 5 komentator terewel bersama Mbak Siti, Mbak Winny, Mbak Puji, dan Mbak Krisopras. Sungguh suatu momen yang berkesan: udah bawel, eh dikasih postcard pula!

Namun apa hendak dikata, kesibukan melanda dan akhirnya postcard yang sudah saya pindai ini pun harus saya tunda sampai sekarang. Sepertinya ada kurun waktu 1 atau 2 minggu setelah saya menerima postcard sampai diterbitkannya post ini. Maaf ya buat Mbak Emmy karena ngasih tahu bahwa postcard ini telah sampai dengan selamatnya, telat. Terima kasih juga telah memberikan kedua postcard ini! It’s inspiring to see both of your postcard since it enlightening myself to see the world.

So this is the postcard, freshly taken by Murray Views.

townsville, north queensland postcard 2 townsville, north queensland postcard

2048 Possible Highest Score

Ada yang tahu game 2048? Saya tahu game ini karena referensi teman tahun lalu. Game simpel namun addictive dengan objektif awal membuat tile 2048 dari tile-tile dasar berbilangan kelipatan (pangkat) 2. Cara memainkannya hanya menggeser tile-tile yang ada ke kiri kanan atas dan bawah. Tile berangka sama akan melebur menjadi tile sebesar penjumlahan kedua tile. Tantangannya adalah menyusun tile hingga mencapai 2048. Mudah bukan?

Beberapa hari setelah memasang game ini di smartphone, tile 2048 pun bisa saya khatamkan. Saya pun mereferensikan ke bunda agar dia mencoba game yang sangat sederhana ini. Hasilnya ia pun ketagihan. Sampai saat ini, misinya untuk membuat tile 2048 masih belum tercapai. Alasannya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggeser tile ke atas atau ke bawah. Padahal tipsnya sederhana, tentukan forbidden move misal ke atas atau ke bawah, dan minimalkanlah forbidden move. Jika keadaan memaksa forbidden move boleh digunakan. Saya sendiri mengharamkan diri saya untuk menggeser tile ke atas, dan menyusun tile terbesar di pojok kanan bawah. Jika keadaan mendesak (dalam arti tidak ada langkah yang bisa dilakukan), saya terpaksa menggeser tile ke atas dengan harapan tidak ada tile yang mengisi pojok kanan bawah.

Lalu keisengan saya pun membawa saya untuk melakukan eksperimen kecil-kecilan. Pagi ini, eksperimen tersebut pun usai. Eksperimennya pun simpel: hanya melanjutkan 2048 sampai mendapatkan tile dan score terbesar yang mungkin dengan batasan tidak ada lagi kemungkinan move. Sebelumnya saya sudah meriset dan mendapatkan bahwa tile terbesar yang mungkin secara matematis adalah 131.072 dengan score tertinggi 3.932.100. Saya setuju dengan tile terbesar yang mungkin, namun saya tidak setuju dengan score terbesar sebab hasil yang saya dapatkan sedikit berbeda. Score terbesar yang mungkin dari hasil saya memainkan 2048 di sela waktu senggang saya adalah 3.865.860 (lebih rendah dibanding hasil riset tersebut). Pembuktian saya bukanlah hitungan matematis, namun pengalaman nyata memainkannya.

Screenshot_2015-01-12-10-58-18

Setidaknya dari misi iseng saya ini, keinginantahuan saya terpuaskan dan 2048 pun telah saya khatamkan.