Narayama: A Ballad of Life and Death

Maut dan hidup merupakan topik abadi nan kekal yang tiada tanding, dan bisa hadir dalam situasi dan suasana, pikiran dan khayalan, mimpi dan fakta, harapan dan getir, siapa saja—entah itu dokter, polisi, hansip, satpam, militan, politikus, guru, pegawai eselon tingkat atas—maupun mereka yang tidak populer namun memiliki peranannya masing-masing, kapan saja—saat duduk, diam—saat waktu kelihatan tak berharga, maupun saat waktu sangat berharga, dan di mana saja; sehingga mereka selalu melengkapi satu sama lain.

Persepsi menafsirkan beragam sudut pandang nan magis bagi tiap insan, dan hal itu absah, patut, dan terpuji bagi pemiliknya, bagi mereka yang sepaham dan sependapat dengannya, serta menjadikan persepsi tersebut sebagai bahan dasar imajinasi lalu melahirkan berbagai kisah tentang beragam hal, salah satunya: maut itu sendiri.

Persepsi tiap insan terhadap maut pastilah berbeda—sebagaimana latar belakang dan pengalaman hidup, daya cipta dan kemauan, pola pikir dan intepretasi, kebiasaan dan gaya hidup, pilihan dan keadaan, agama dan kepercayaan, suku, warna kulit dan bangsa, awal lahir maupun akhir hidup juga berbeda.

Sejauh mana maut mempersiapkan keteguhan batin, sejauh itulah maut semakin romantis mendekap penuh rayu dan erotis. Maut jenis itu hadir dalam intepretasi dan budaya lama Jepang: obasute. Sejatinya, obasute ini merupakan tradisi ilegal yang belum terklarifikasi kebenarannya, dengan meninggalkan wanita maupun pria tua di suatu gunung maupun tempat terpencil agar mereka bisa dipersunting oleh maut.

Topik maut yang dipaparkan dengan pasti inilah yang ditengahkan oleh Shichirō Fukazawa melalui novelnya (1956) The Ballad of Narayama. Secara retorik, topik ini pun diadaptasi menjadi cerita dan kisah dalam film oleh Shohei Imamura (1983) agar keabadian maut semakin memukau. Maut pun berhasil sehingga Palme d’Or dianugerahkan padanya.

Ballad_of_Narayama_1983

The Ballad of Narayama, 1983 © Toei Company (Sources)

Dengan indah maut pun berkisah dalam balada nan puitis-syahdu-melodis-rupawan-tragis ini. Maut mengisahkan bahwa ia akan mengundang para tetua yang berhasil hidup hingga umur yang ketujuh puluh, untuk mendatanginya di gunung Narayama—sebuah gunung sakral nan magis. Maut juga menyediakan angkutan bagi tetua ini, yakni anak mereka sendiri. Ya, mereka akan diantar oleh anaknya sendiri ke Narayama untuk ditinggalkan begitu saja. Tragis? Maut dan Orin tidak berpikiran demikian. Setidaknya Orin—tokoh sentral dalam balada ini—merasa bangga karena waktunya mengunjungi Narayama telah tiba. Namun ia merasa sebelum keberangkatannya tiba, ia masih harus mencarikan jodoh bagi putranya yang masih perjaka, dan cucunya sendiri menginginkan ia segera pergi ke Narayama, sehingga demi menahan malu atas tuduhan cucunya: sebab bukan lansia namanya jika giginya masih lengkap, ia pun berbesar hati lalu menanggalkan giginya yang masih lengkap. Demi menyambut kepergiannya ke Narayama yang makin dekat, seluruh warga desa merayakannya dalam festival yang penuh nyanyian dan tarian penuh sukacita. Orin pun merayakannya dengan menjamu keluarganya dengan makanan termewah yang ia miliki yang mengakibatkan ia semakin merindukan Narayama, sebab ia percaya bahwa ia adalah orang yang paling beruntung di dunia ini, sebab ia percaya bahwa salju tidak akan turun sebelum ia tiba di Narayama, sebab ia percaya bahwa maut akan memberikan penghargaan tertinggi kepadanya, sebab ia percaya mengunjungi Narayama merupakan tradisi yang harus ia jalani sama seperti nenek dan ibunya juga dengan bangga melakukan perjalanan menuju Narayama, sebab ia percaya bercinta dengan maut di Narayama adalah hal terakhir yang akan ia lakukan—dan itulah yang Orin lakukan.

Persepsi Orin menyajikan keberanian tak berwujud terhadap maut. Bagi Orin, maut adalah belahan jiwanya, yang ia dambakan, lalu ia nikahi. Namun, seromantis itukah maut bagi kita?

Your Postcard Had Arrived

Setelah beberapa minggu hectic bolak-balik ngampus dan kejar-kejaran dengan dosen, akhirnya sore ini bisa juga meluangkan waktu membuat satu post. Awalnya post ini ini dimaksudkan ditulis saat saya menerima postcard dari Mbak Emmy yang telah bersedia mengirimkan postcard ini jauh-jauh dari Austalia dikarenakan pada review 2014-nya blog Mbak Emmy, saya berhasil menjadi 5 komentator terewel bersama Mbak Siti, Mbak Winny, Mbak Puji, dan Mbak Krisopras. Sungguh suatu momen yang berkesan: udah bawel, eh dikasih postcard pula!

Namun apa hendak dikata, kesibukan melanda dan akhirnya postcard yang sudah saya pindai ini pun harus saya tunda sampai sekarang. Sepertinya ada kurun waktu 1 atau 2 minggu setelah saya menerima postcard sampai diterbitkannya post ini. Maaf ya buat Mbak Emmy karena ngasih tahu bahwa postcard ini telah sampai dengan selamatnya, telat. Terima kasih juga telah memberikan kedua postcard ini! It’s inspiring to see both of your postcard since it enlightening myself to see the world.

So this is the postcard, freshly taken by Murray Views.

townsville, north queensland postcard 2 townsville, north queensland postcard