2048 Possible Highest Score

Ada yang tahu game 2048? Saya tahu game ini karena referensi teman tahun lalu. Game simpel namun addictive dengan objektif awal membuat tile 2048 dari tile-tile dasar berbilangan kelipatan (pangkat) 2. Cara memainkannya hanya menggeser tile-tile yang ada ke kiri kanan atas dan bawah. Tile berangka sama akan melebur menjadi tile sebesar penjumlahan kedua tile. Tantangannya adalah menyusun tile hingga mencapai 2048. Mudah bukan?

Beberapa hari setelah memasang game ini di smartphone, tile 2048 pun bisa saya khatamkan. Saya pun mereferensikan ke bunda agar dia mencoba game yang sangat sederhana ini. Hasilnya ia pun ketagihan. Sampai saat ini, misinya untuk membuat tile 2048 masih belum tercapai. Alasannya, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggeser tile ke atas atau ke bawah. Padahal tipsnya sederhana, tentukan forbidden move misal ke atas atau ke bawah, dan minimalkanlah forbidden move. Jika keadaan memaksa forbidden move boleh digunakan. Saya sendiri mengharamkan diri saya untuk menggeser tile ke atas, dan menyusun tile terbesar di pojok kanan bawah. Jika keadaan mendesak (dalam arti tidak ada langkah yang bisa dilakukan), saya terpaksa menggeser tile ke atas dengan harapan tidak ada tile yang mengisi pojok kanan bawah.

Lalu keisengan saya pun membawa saya untuk melakukan eksperimen kecil-kecilan. Pagi ini, eksperimen tersebut pun usai. Eksperimennya pun simpel: hanya melanjutkan 2048 sampai mendapatkan tile dan score terbesar yang mungkin dengan batasan tidak ada lagi kemungkinan move. Sebelumnya saya sudah meriset dan mendapatkan bahwa tile terbesar yang mungkin secara matematis adalah 131.072 dengan score tertinggi 3.932.100. Saya setuju dengan tile terbesar yang mungkin, namun saya tidak setuju dengan score terbesar sebab hasil yang saya dapatkan sedikit berbeda. Score terbesar yang mungkin dari hasil saya memainkan 2048 di sela waktu senggang saya adalah 3.865.860 (lebih rendah dibanding hasil riset tersebut). Pembuktian saya bukanlah hitungan matematis, namun pengalaman nyata memainkannya.

Screenshot_2015-01-12-10-58-18

Setidaknya dari misi iseng saya ini, keinginantahuan saya terpuaskan dan 2048 pun telah saya khatamkan.

Tell No One

Setelah gagal mengerti kriteria penilaian Palme D’Or, saya pun memutuskan melanjutkan film yang sempat saya tonton namun harus tertunda: Tell No One (Ne Le Dis À Personne). Hasilnya saya terpukau dengan jalan cerita yang penuh twist di sana-sini…

Here I tell you why…

Filmnya sendiri mengisahkan Margot istri dari Alexandre yang dibunuh 8 tahun silam oleh seorang pembunuh berantai. Alexandre pun terus bangkit dari kesedihan mendalam setelah ditinggal istrinya dan melanjutkan kehidupannya. Namun ketenangan hidupnya kembali terusik oleh penemuan 2 mayat di dekat rumahnya beserta barang bukti yang memberatkannya sebagai pelaku. Di hari yang sama ia pun menerima email berisi video Margot yang ia cintai masih hidup di belahan bumi lainnya serta pesan sederhana: tell no one. Petualangan mencari Margot pun dimulai.

Secara umum, saya memuji kepiawaian bercerita dalam film ini. Banyak twist yang dipersiapkan dengan rapi. Belum lagi kejar-kejaran antara Alexandre dengan polisi yang membuat adrenalin ikut berpacu. Hal lain yang bisa saya dapatkan dalam Tell No One adalah cinta sejati, cinta yang dimiliki Margot dan Alexander dari kecil hingga maut memisahkan mereka…

Tontonlah dan Anda akan tahu cinta seperti apa yang dimiliki sehingga Alexander bisa berkata have you any idea how much l miss your daughter? 

Palme D’Or

Maksud awal hendak mengetahui apa kategori dan karakteristik yang menjadikan satu film patut dianugerahi Palme D’or yang digadang-gadang sebagai penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes, saya pun tertarik menjadikan pemenang mutlak tahun 2013: Blue Is the Warmest Colour (La Vie d’Adèle: Chapitres 1 et 2) dikarenakan suara bulat para dewan juri memenangkan film ini; menambah daya pikat untuk mencobanya sebagai starter dalam babak melahap film-film pemenang Palme D’or

Apa daya… ekspektasi berbanding terbalik… Here I tell you why

Jumat malam, saya ajak abang saya yang kebetulan menginap untuk bersama-sama menyaksikan film ini. Dia setuju. Menit-menit awal, saya dan abang saya takjub akan bahasanya (soalnya yang bisa kami dengar dengan jelas hanyalah suara desahan, sengau yang bunyinya kira-kira siong siong siong – wes wes siong). Beruntunglah ada subtitle English yang setia menemani.

La Vie d'Adèle
Poster film. Sumber

Filmnya sendiri berkisah tentang Adèle, pelajar introvert berusia 15 yang memiliki teman kelas dengan kegemaran bergosip tentang pria dan sex. Ia pun berpacaran dan akhirnya berhubungan sex dengan salah satu pria di kelasnya. Kepuasan tidak ia dapatkan dan hubungan singkat mereka berakhir. Adèle pun berfantasi liar terhadap seorang gadis berambut biru yang tak sengaja ia lihat di jalan. Rasa ingin tahu membawa ia berkelana ke gay-bar dengan ditemani teman karibnya: Valentin. Ia pun melongok ke lesbian-bar tanpa sepengetahuan Valentin. Di sanalah ia secara perdana berkomunikasi dengan gadis berambut biru: Emma. Awalnya mereka berteman lalu sangat dekat hingga akhirnya mereka hidup berdua sebagai kekasih dengan Adèle sebagai staff pengajar di sekolah dasar selepas ia lulus dan Emma tetap menjalani karirnya sebagai Fine Art Artist. Lalu kisah pun berfokus pada kegiatan Adèle sebagai pengajar sampai akhirnya mereka harus berpisah dan mengusirnya karena Emma mendapati Adèle mengkhianatinya dengan tidur dengan rekan kerja prianya…

Durasi film ini boleh dikatakan panjang dan butuh waktu khusus untuk bisa mengikuti jalan cerita yang menurut saya kelewat detail (dalam arti detail yang tidak perlu ditampilkan berulang kali) dengan efek bosan pun melanda… Tak dirasa, ngantuk pun melanda di menit 20… Tertidurlah saya… Esok malamnya saya pun menyambung film ini sendirian dengan tekad mengkhatamkannya. Tekad saya pun akhirnya dipaksakan dengan fast-forward, tarik sana tarik sini.

Hasilnya saya mendapati bahwa misi awal gagal total! Maka, kriteria apakah yang menjadikan film ini bisa keluar sebagai pemenang mutlak? Hanya rumput yang bergoyanglah yang tahu… Malam ini, akan saya tanyakan itu pada rumput itu.

Learning from Hobbit

WARNING: Tulisan ini sudah dibuat Oktober 2014. Di-save sebagai draft karena masih ragu untuk publish dan setengah siap. Akhirnya dilepas juga di tahun 2015. Bisa dibilang posting pertama setelah hiatus bertahun-tahun. Segala kritikan dan saran are welcomed! Intinya di tahun 2015, mau kembali giat menulis. Semoga! Check this out!

Setelah seminggu sendu dengan cuaca yang mendung-dingin-basah, akhirnya pagi ini langit pun menumpahkan segala kekesalannya ke bumi. Well, ketimbang berleha-leha di kasur, saya lanjutkan kegiatan menonton saya yang sempat terhenti sejak semalam. Entah kenapa dalam minggu ini, keinginan saya menuntaskan trilogi tersohornya Tolkien memuncak. Saya tidak pernah bisa menyaksikan bagaimana Peter Jackson mengadaptasikan Lord of the Rings ke layar lebar (yang sudah sering diputar di televisi). Well, saya akui memang dalam hal menonton televisi, saya berinisiatif memboikotnya. Alhasil perkembangan tentang sinetron apapun maupun reality show, entah berita terbaru dari televisi yang kian hari makin brutal, tidak saya ikuti. Kini saya lebih selektif. Saya memilih apa yang ingin saya tonton.

Back to topic.  Minggu ini saya habiskan waktu mencari inspirasi dengan menghabiskan deretan trilogi Lord of The Rings. Sebagai pembuka saya malah mulai dengan Desolation of Smaug, kisah Bilbo Baggins yang membantu Dwarves untuk bisa merebut kembali rumah mereka yang telah dijajah Smaug, sang naga nakal nan serakah… Ekspektasi saya sebenarnya hanya sebagai penghibur belaka. Tak dinyana saya tersihir dengan efek magis yang ditampilkan oleh kreasi animator ulung asal New Zealand. Warna-warna yang hidup, bahasa Elves yang asing serta alur cerita yang kompleks menarik saya untuk mengkhatamkan film ini tanpa ditunda.

Puas menonton petualangan Bilbo membangunkan Smaug hingga akhirnya Smaug murka lalu melesat ke Laketown, saya pun melaju ke dunia maya untuk menambah wawasan dengan membaca ulasan dari berbagai sumber. Saya pun sadar, ada keunikan dari cara saya menonton: saya malah memulainya dengan prekuel dari sekeuel, ibaratnya saya membaca sebuah buku dari bab pertengahan tanpa tahu awal. Niat menuntaskan trilogi Lord of the Rings terlebih dahulu (sesuai urutan dirilisnya adaptasi ini) muncul, walau saya bisa dibilang sangat ketinggalan mengikuti perkembangan Lord of the Rings. Lebih bagus terlambat atau tidak sama sekali. Right?

Jujur, saya bosan sekali dengan awal kisahnya… Namun saya paksakan agar mengerti alur ceritanya. Alhasil ketiga trilogi ini pun khatam. Jadi di antara 5 film yang telah diadaptasi oleh Peter Jackson, saya sudah di tahap 4 of 5. Bosan dengan alur yang lambat dan konsentrasi cerita yang lebih menitik beratkan set peperangan, namun indah dalam segi jalinan ceritanya yang kompleks serta dialog cerdas penuh misteri.

Pagi ini, saya pun mengkhatamkan bagian terakhir yang malah menjadi awal terbentuknya seluruh kisah:  An Unexpected Journey. Saya jatuh cinta…

(bersambung…)

NB: Eh ternyata, Hobbit 3 dirilis juga… Ketinggalan banget post ini…